Dialog Wudhlu


Pada akhirnya hidup adalah perkara pertanggungjawaban manusia pada Tuhan. Aku pernah marah kepada Tuhan sesaat sebelum seseorang mengingatkanku  “Temuilah Tuhan dan kamu tidak akan pernah ingin membayangkan bagaimana kemarahan-Nya padamu yang tidak menyayangi diri sendiri!”

Kujawab “Bagaimana kau yakin bahwa aku akan mempercayai ucapanmu?”

“Jika kamu masih mempunyai iman kepada Tuhan, hatimu akan merasa sakit dengan kemarahanmu, kamu tidak benar-benar marah. Ungkapkanlah rasa rindumu pada-Nya dengan cara yang lebih layak.” aku bergidik mendengarnya.

Aku begitu ringkih mengetahui diriku yang begitu tidak adil terhadap Sang Maha Penyayang.

Lalu kucoba untuk menyucikan diri mulai dari kedua pergelangan tanganku, perkataan  dari mulutku, udara yang kuhirup melalui hidungku, kemarahan dari wajahku, perbuatan dari kedua tanganku, pemikiran mulai pelipis hingga ubun-ubun, pendengaran dari telingaku, dan langkah dari kedua kakiku.

Aku merasa membaik, maafkan aku Ya Rabb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s