Kesan menjadi seorang fasilitator


Kemarin bersama teman-teman beserta bimbingan dari kepala suku kami wa kiki, om ajun, dan kakek iwan, kami melakukan diskusi yang padat merayap tentang outbound, terutama hakikat menjadi seorang fasilitator.

123

kepala suku kita kiri-kanan: wa kiki, om ajun, kake iwan

(maaf ya saya share fotonya tanpa ijin, tapi kece-kece kok😛 )

Namun, di sini saya tidak akan membahas lebih jauh tentang hakikat fasilitator. Maybe next post. Saya hanya ingin menyampaikan kesan saya tentang how become a facilitator in the real outward bound.

Mungkin banyak yang belum menyadari tidak mudahnya saktinya  menjadi seorang fasil in the real outbound. Termasuk saya. Namun dari diskusi kemarin saya mendapat kesan bahwa menjadi fasil adalah proses belajar sepanjang hidup . Bagaimana kita membangun kepemimpinan kita, mempelajari berbagai disiplin ilmu, bahkan bagaimana kita mencintai diri kita dengan tetap menjaga kesehatan kita.

Semakin kita megeksplor diri, semakin banyak ingin tahu, semakin kita matang, dan semakin sehat psikis kita. Semakin kita tunduk pada Tuhan.

Menjadi fasil hanya salah satu jembatan untuk membangun pribadi yang lebih baik, menularkannya kepada client dengan menerjemahkan sasaran-sasaran yang kita kehendaki melalui berbagai initiative activities yang disajikan.

Dan saya pikir, begitu pun dengan berbagai profesi. Apapun itu, ketika kita benar-benar mencintai pekerjaan kita, lambat laun dan tanpa disadari kita akan melandasi apa yang kita kerjakan dengan suatu niat yang baik, mengevaluasi kesalahan, bermanfaat bagi sesama, melandasi dengan idealisme kita. Dan pada akhirnya kita akan mengembalikannya pada Sang Pemberi Kehidupan.

Yap, seiring berjalannya waktu, seiring kita mencintai pekerjaan kita, atas nama kejujuran, it’s all about the value not only salary betul tidaaaak?

Semoga apapun yang kita kerjakan menjadi suatu nilai ibadah, Amiiiiiin….

(Chandra, 2013)

10 thoughts on “Kesan menjadi seorang fasilitator

  1. Namanya juga …”Fasilitator”
    orang yang memfasilitasi … memfasilitasi peserta didik dewasa untuk mengatasi permasalahannya sendiri.

    Ini memerlukan skill dan experience yang khusus …

    Kadang kala fasilitator tidak menguasai problematika tekhnis yang dihadapi traineenya … namun dengan kepiawaiannya … dia bisa membangkitkan semangat peserta didik untuk menemukan jawabannya sendiri … dari dalam diri mereka sendiri …

    Salam saya Chandra …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s