Jalan Bandungan: Sebuah Novel Karya Nh. Dini


Jalan Bandungan, sebuah wilayah di kota Semarang, menjadi saksi keteguhan Muryati sebagai manusia diuji oleh-Nya, diuji dengan kenangan manis dan pahit dalam kurun waktu yang beruntun dan cenderung cepat. Muryati adalah seorang ‘janda’ yang menghidupi ketiga anaknya dan mengabdikan dirinya pada pendidikan. Disebut ‘janda’ karena dirinya menjadi single parents selama hampir empat belas tahun paska Widodo- suaminya- menjadi tahanan politk pada masa itu. Menjadi istri seorang tapol bukanlah perkara mudah, beberapa kali ia dipersulit dalam mengurus sesuatu dengan beberapa lembaga terkait. Ujian terasa semakin berat ketika Muryati ditinggal mati oleh ayahandanya yang merupakan seorang polisi. Dengan bantuan dari ibunya yang mulai berdagang dengan sebuah warung kecil, dan gajinya sebagai guru (yang pada waktu itu sangat kecil) Muryati meniti sedikit demi sedikit semangatnya yang sempat padam demi kesejahteraan ketiga anaknya: Eko; Widodo; dan Seto.

Perjuangannya kian membuahkan hasil ketika sahabat-sahabatnya semakin mendorong kemajuan Mur (begitu panggilan akrab Muryati) baik secara moril maupun materil. Puncaknya, ketika dirinya berhasil lolos sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia dengan mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan kuliah singkat di negeri Belanda. Pada waktu itu, dengan bantuan keluarga ‘kedua’ Mur yakni dr. Liantoro bersama istri, dan Ganik anak tunggal mereka, Mur mampu memperjuangkan kariernya dari awal hingga selesai dengan baik. Terlebih Ganik, yang senantiasa memberi perhatian kepada Mur pada saat itu. Dalam perjalanannya, selama kuliah singkat tersebut Mur bertemu dengan sesosok pria yang mampu menawan hatinya, ialah Handoko, adik kandung dari Widodo, suaminya sendiri.

jalan_bandungan

gambar dari marhanfariz

Singkat cerita, setelah resmi bercerai dengan suaminya, Mur menikah dengan Handoko dan tinggal di Jalan Bandungan, rumah peninggalan Ganik, yang meninggal karena kanker, menyusul kedua orangtuanya yang meninggal karena kecelakaan pesawat . Di jalan Bandungan, semua kenangan manis bersama Ganik dan sahabat-sahabat lainnya tercipta. Pun, di Jalan Bandungan mulai terjadi kebaruan yang membuatnya tidak tenang, yakni hubungannya dengan Handoko yang mulai diusik oleh kehadiran seorang tapol yang baru bebas setelah mendekap empat belas tahun di penjara, ialah Widodo, mantan suaminya.

Dalam bukunya, dengan sederhana Nh. Dini mampu membawa saya sebagai pembaca, pada kedalaman berpikir seorang manusia. Tokoh Muryati menjadi wanita yang luar biasa tangguh, rasional, serta sangat peka mencerap setiap pengetahuan yang ia rasa sangat berguna bagi kemajuan pribadinya. Selain itu, kepeduliannya terhadap pendidikan pada masa itu sangat berkesan.

Ah manusia! Selalu tergiur oleh ‘seandainya’. Seolah-olah dengan perkataan itu kita bisa membentuk dunia baru atau kehidupan lain yang sesuai dengan idaman masing-masing.

(Tokoh Muryati, 1989 dalam Jalan Bandungan karya Nh. Dini)

One thought on “Jalan Bandungan: Sebuah Novel Karya Nh. Dini

  1. Pingback: Aspek Psikologis Wanita dalam Novel Jalan Bandungan karya Nh. Dini | Scribere @ Jatinangor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s