Teman, Tawa, dan Ceria


Sepasang baju pramuka berlengan pendek, jilbab dengan warna senada, dan sepasang sandal telah banyak mengajari saya. Betapa tidak, senyum anak-anak gunung itu sangat sulit untuk saya pahami. Sepatutnya saya segera mencerap apa-apa yang terpancar dalam diri seorang mahluk Tuhan bernama manusia, termasuk mereka. Pancaran kebahagiaan anak-anak gunung itu.

Ah anak-anak! selalu membuat saya lupa jika saya pernah seperti mereka.

Teman, Tawa, dan Ceria

Melihat air muka yang begitu halus dari anak-anak itu, seolah terpancar pesan yang menelisik masuk dalam imajinasi saya:

Tidak perlu takut untuk tidak memiliki teman di sini, Kak. Pergilah ke puncak gunung di desa kami, dan Kakak akan melihat deretan mahluk serupa bebek yang Pak Petani giring di sawah, bersama-sama berjalan-berjejer menuju satu titik yang dikehendaki pengiringnya. Ialah kami, setiap pagi bersama-sama pergi ke suatu tempat yang ‘kata orang’ adalah tempat untuk menuntut ilmu. Bagi kami, itu adalah kehidupan utama. Bercerita, bermain bersama, atau hanya sekadar bersenda gurau dengan sesama, bahkan teman laki-laki yang gemarnya hanya ‘mengejek’ saja tanpa sadar seringkali kami nantikan. Karena itu, ketika Kakak bertanya “Mengapa kami mau berjalan berkilo-kilo meter sepanjang kaki gunung untuk pergi sekolah?” kami hanya tersenyum. Kakak tahu? Sejujurnya kami tidak pernah memikirkan itu, yang kami tahu, kami akan bertemu dengan teman-teman, itu saja. Ya, teman-teman. Mungkin, suatu hari kami akan menyadari bahwa kami sebenarnya sedang belajar untuk tidak bergantung pada orangtua yang senantiasa memanjakan kami. Atau mungkin juga suatu hari kami menyadari kalau pertumbuhan tubuh kami akan baik karena rajin berolah raga setiap pagi. Yang kami tahu, kami mulai merasa nyaman dan senang pada saat itu, pada saat bermain dengan teman-teman, apalagi teman kami sangat banyak disini Kak!

anak-anak copyAh indahnya! Dengan bantuan Erikson sedikit demi sedikit saya mencoba merenungkan apa yang anak-anak katakan dalam imajinasi saya itu.

Erikson's quotesCinta dan kesenangan, itu kuncinya! Tapi, tidakkah ada hal lain yang bisa kalian kerjakan selain bermain?Enak betul.

Pikiran lain kemudian menyeruak dalam benak saya. Dengan segera, riuh anak-anak itu kembali menguasai imajinasi saya:

Enak saja! Kami harus belajar di sekolah Kak, mengerjakan PR juga. Sedikit-sedikit kami jadi tahu bagaimana menghitung, membaca, bahkan mengerjakan ‘soal cerita’, Kak. Kami senang jika bisa mengerjakan semuanya dengan benar. Apalagi Bu guru baik sekali, ia sering memuji jika kami bisa mengerjakan soal. Kami sangat senang dan tambah bersemangat untuk mengerjakan soal. Meskipun, teman laki-laki lebih sering diomeli Bu guru karena katanya nakal, sering mengganggu, dan sering berisik saat sedang belajar. Tapi, kami lihat mereka hanya tertawa-tawa saja. Pada ahirnya, kami tetap bermain dengan senang.

Bertemu orang baru itu..

Kemudian, saya teringat dengan apa yang dilontarkan anak-anak dalam imajinasi saya itu:

“Tidak perlu takut untuk tidak memiliki teman di sini, Kak. Pergilah ke puncak gunung di desa kami, dan Kakak akan melihat deretan mahluk serupa bebek yang Pak Petani giring di sawah..”

Sebanyak itukah teman-teman kalian?

Sangat banyak karena ‘bapak’ senantiasa rajin ‘menabung’ benih sepulang dari rantauan, untuk kemudian kembali pergi mempertaruhkan  hidupnya. Dengan rentengan kerupuk yang mereka bawa dengan harap-harap cemas ke pulau seberang. Setengah nyawanya dititip pada rentengan kerupuk itu untuk menyambung hidup bagi diri dan keluarganya!

Itu kata Pak RT. Pak RT yang merangkap menjadi sekretaris desa, guru, tukang fotocopy, tukang ojek gratis, juga menjadi ‘bapak’ bagi semua anak ini, seketika menyusup dalam pikiran saat saya teringat akan sesuatu yang pernah ditunjukkannya pada saya.

Sontak saya agak kaget ketika beliau memperlihatkan KK (Kartu Keluarga) keluarga-keluarga di desa tersebut. Setiap barisnya, tercantum nama-nama anak adam bahkan mencapai belasan baris! Diisi oleh nama seorang ayah, ibu, dan anak-anak yang mencapai kesebelasan.

Kembali, riuh anak-anak itu menguasai imajinasi saya:

Kak, kami diberi tahu Ibu bahwa akan ada kakak-kakak dari Bandung yang akan tinggal di desa kami. Awalnya, kami tidak begitu memperhatikan hal ini. Karena yang kami tahu, kami akan ‘bebas’ di sekolah hahaha. Tapi kami senang, meskipun ini bukan pertama kalinya kami kedatangan ‘tamu’, kami senang bermain bersama-sama dengan suasana baru di luar sekolah. Namun, ketika Kakak mendekati kami secara langsung kami agak sedikit riskan, lebih tepatnya Kakak tetap terlihat seperti orang asing jika seperti itu. Dan Kakak tahu? Salah satu adik kecil diantara kami sampai menangis ketika Kakak membujuk dia untuk langsung turut serta dalam permainan Kakak. Apalagi Ibu seringkali memberitahu kami untuk bersikap seperti ini dan itu jika kedatangan ‘tamu’. Bisa dikatakan, kami merasa bingung dan tidak tahu harus bersikap seperti apa pada saat itu, kami jadi ‘malu-malu’. Sementara jika di rumah, kami hanya bermain dengan adik atau kakak kami dan sesekali belajar bersama Ibu di malam hari. Jarang sekali kami kedatangan tamu di rumah kecuali tetangga yang biasanya ada keperluan dengan Ibu. Maka dari itu, kami senang bukan main ketika Bapak pulang dari sebrang. Rasanya seperti mendapat hadiah, suatu yang baru dan menyenangkan.

anak-anak bojong copy

Tapi pada ahirnya, kami tetap senang dengan Kakak, kok. Oleh karenanya, di hari-hari terahir Kakak tinggal di sini sedikit demi sedikit kita mulai akrab dan tidak sungkan menyapa Kakak pada saat itu. Ketika Kakak pulang pun, sebenarnya ada sedikit rindu dan harapan pada Kakak, kapan ya Kakak kesini lagi?

Permintaan anak-anak dalam imajinasi saya itu seketika menghardik saya untuk tidak memasrahkan diri pada kepasifan. Meskipun, saya belum betul-betul bisa mengingat bahwa saya pernah seperti mereka, seperti anak-anak itu. Pertanyaan dan pernyataan yang terbersit dalam benak saya itu pun ditutup oleh pesan anak-anak yang kembali menyeruak dalam pikiran saya:

Kak, sebenarnya kami sangat senang ketika menonton TV membayangkan bisa mendapatkan ‘apa-apa’ yang dimiliki dan dilakukan oleh orang-orang yang ada di TV itu. Tapi, hal itu tidak begitu mengganggu pikiran kami setelah kembali bermain bersama teman-teman sepulang sekolah. Setelah bermain pun, kami akan bertemu lagi di Mesjid untuk belajar mengaji bersama. Yang kami rasa, dengan mudah kami bisa mendapatkan apapun yang kami inginkan jika sudah besar nanti, itu saja. Saat ini, dengan teman-teman kami yang banyak, kami sudah cukup senang. Lagi pula, apa yang disebut sebagai sinyal internet tidak bisa Kakak dapatkan di sini kan? Hehe. Oh ya, soal Kakak yang masih kesulitan mengingat bahwa Kakak pernah seperti kami, sebagai anak-anak, lihat saja diri Kakak saat ini! Katanya Psikologi?

 (Desa Bojong, Kec. Pamengpeuk, Kab. Garut 25-27 Oktober 2013, dengan ditemani lagu-lagu Beatles dan sahabat-sahabat tercinta),

Chandra.

9 thoughts on “Teman, Tawa, dan Ceria

  1. ahhhh, saya jadi teringat dengan tempat KKN.. rindu dengan anak2 dsana.. kondisinya kurang lebih sama..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s