Is That Real?


Pernahkah kita merasa bingung? Merasa tidak menemukan benang merah atas tujuan kita mengerjakan semua tentang “tentang” di dunia kita? terdengar begitu klasik bukan? atau terdengar seperti kicauan remaja di sisa penghabisan masanya? mungkin iya, mungkin tidak, relatif, bebas.

Is that real? pertanyaan ini menyeruak begitu saja di pikiran saya pagi ini bersamaan dengan hangatnya aroma kopi dan track list yang saya ubah dari Beatles ke Payung Teduh. Ya, lagu terbaik adalah lagu yang ingin kita dengar pada saat itu juga, bukan? Saya lagi pundung dulu sama Beatles. Damn I’m so adore you, George!.

chan how freak are you

Balik ke topik.

Is that real? Secara kasat mata pertanyaan yang juga pernyataan ini mungkin hanya sebuah pertahanan diri dari seorang anak Adam yang merasa jenuh dan kesepian, mungkin. Atau mungkin hanya buah dari kedalaman berpikir yang masih terlampau jauh dari mumpuni.

Semuanya menjadi pertanyaan begitu saja ketika saya mentafakuri semua yang saya kerjakan. Dimana saya menikmati semua kehidupan saya, kuliah, pekerjaan, passion, persahabatan, dan keluarga. Yang pada ahirnya semuanya mengkerucut pada satu tujuan, perubahan.

Nyatanya, perubahan tidak seperti membolak-balikan telur yang dengan seketika dapat menjadi martabak bukan? Kita perlu memotong bawang, menambahkan garam, gula, rempah, mencincang daging, dan memiliki keterampilan tangan untuk membuat adonan yang telah khalis menjadi begitu tipis, halus, namun kuat.

Ah ya! ini memang analogi yang terlampau payah untuk memahami sebuah kehidupan yang tentu saja tidak setara dengan harga martabak.

Is that real? sebuah pertanyaan yang muncul ketika saya menyadari ternyata saya seringkali memaksakan perubahan untuk datang sekehendak saya, menentang aturan yang telah ditetapkan-Nya. Ketika itu saya merasa begitu kecil. Membuat saya bertanya-tanya. Sebagai “tamu” yang singgah sementara, apakah Bumi milik Tuan Rumah ini nyata bagi hidup kita? ternyata saya tidak begitu mengenalnya dengan baik. Mengenal rumah ini, mengenal pemiliknya, atau bahkan mengenal diri saya sendiri yang hanya sebagai tamu disini.

Pada ahirnya, ini bukan tentang Rumah yang nyata atau tidak. Tapi apakah kita nyata mengenal diri kita, is that real?

Perubahan yang nyata ternyata perubahan pada diri sendiri. Semuanya adalah proses belajar untuk kita bisa berterima kasih pada Tuan Rumah yang sangat baik hati. Sehingga kita bisa pulang dengan lapang -Chandra, 2014.

– Bandung, 16 Januari 2014.

15 thoughts on “Is That Real?

  1. Sepertinya pikiran dan perasaan “ngambang” seperti ini lazim ditemui di usia-usia transisi menuju dewasa yang sesungguhnya deh. Yang udah lewat kepala dua pasti tau rasanya.😀 *pantang nyebut umur

  2. sya tdk begitu paham dg tulisan diatas.. cuman apabila sudah berurusan dg namanya perenungan ttg hidup dan kehidupan, disaat itulah waktu yg pas utk bersandar pada pemahaman agama thd hidup dan kehidupan.. *ngoment opo iki*

  3. Jadi intinya, bagaimana kita menyikapi perubahan yang drastis. Misalnya, yang semula dompetnya selalu kosong, sekarang malah kepenuhan sampe ngeganjel pantat kalo lagi duduk. Hehehe…maafkan komentar ngaco saya. Nice post anyway🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s